
thanks ya atas doanya
. Album DEWA Insya Allah rilis akhir November mendatang
coba aja kamu ke forum DEWA dah banyak tanggapan baik dari aku maupundari teman2 yg lainnya
. Kalo aku mbahas lagi masalah itu di sini terus terang aku males!! males nanggepinya!!
Di sana sudah banyak yg nanggapi masalah itu
| Dewa, Cinta Dan Sufi, lanjutan... | #1 |
CINTA KAUM SUFI
Di dunia ini, peradaban Islam mencatat, tidak ada kedalaman apresiasi Cinta yang melebihi Cinta Rasul kepada Allah. Bahasa ruh cinta itu kemudian diwarisi oleh para Sufi sedemikian berpengaruh seantero dunia. Mungkin anda beriman kepada Allah, dan anda juga mengaku beragama Islam, tetapi apakah anda sudah mencintai Allah? Pernahkah ada getaran yang membuat dada anda gemetar ketika nama Allah disebut? Sebagaimana getaran jiwa sang pecinta kepada kekasih yang paling dicintainya? Pernahkah anda rindu bertalu-talu, sampai kerinduan itu menjadi nyanyian hati yang membubung sampai ke Arasy-Nya?
Dewa, sekadar mengapresiasikan semua itu dalam nada-nada indah. Keindahan dan kegembiraan mencintaiNya, kadang terekpressikan dalam gerak, apa pun gerak itu, tapi gerak tersebut telah menggerakkan kepak sayap para penari di zaman Jalaluddin Rumi, dan jingkrak-jingkrak Dewa, adalah kegembiraan dan keceriaan jujur dari ekstase jiwanya dalam menikmati munajat Ilahi di alam musikalnya.
Sampai pada lirik yang menyatukan mereka dengan yang Dicinta:
SATU
AKU INI..ADALAH DIRIMU
CINTA INI…ADALAH CINTAMU
AKU INI…ADALAH DIRIMU
JIWA INI…ADALAH JIWAMU
RINDU INI ADALAH RINDUMU
DARAH INI ADALAH DARAHMU
REFF:
TAK ADA YANG LAIN SELAIN DIRIMU
YANG SELALU KU PUJA …OUO..
KU SEBUT NAMAMU
DISETIAP HEMBUSAN NAFASKU
KUSEBUT NAMAMU
KUSEBUT NAMAMU
DENGAN TANGANMU…AKU MENYENTUH
DENGAN KAKIMU.. AKU BERJALAN
DENGAN MATAMU..KUMEMANDANG
DENGAN TELINGAMU KUMENDENGAR
DENGAN LIDAHMU…AKU BICARA
DENGAN HATIMU…AKU MERASA
Dalam petikan hadits Qudsy, yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya, Al-Hakim, dan Ibnu Mardaweih, Abu Nu'aim dan Ibnu Assakir, disebutkan, "Barang siapa menyakiti salah satu waliKu berarti telah memaklumkan perang kepadaKu. Dan Aku tidak merasa ragu-ragu dalam melakukan sesuatu pun, sebagaimana keraguanKu menyabut nyawa hambaKu yang beriman karena dia membenci kematian dan Aku tak suka menyakitinya, namun kematian itu harus terjadi. Tak ada cara taqarrub yang paling Kucintai bagi hambaKu dibanding melaksanakan kewajiban yang kuperintahkan kepadanya, dan senantiasa mendekatiKu dengan ibadah-ibadah Sunnah sampai Aku mencintainya.
Dan siapa yang Kucintai, Akulah menjadi telinga (untuk mendengar), menjadi Mata (untuk melihat), menjadi Tangan dan Tiang penopang baginya…"
Amboi, Dhani Dewa mengapresiasikan dengan bahasa popular yang anggun, dalam rangka meneladani jejak Rasul. Kenapa syair itu dimunculkan? Jika rasulullah SAW mengingatkan kita seperti itu, kelak di zaman ummatnya ini, memang akan ada segerombolan ummat yang memiliki kepuasan-kepuasan nafsu dengan cara membenci para WaliNya. Na'udzubillah min-dzaalik.
Sekali lagi, Dewa juga mengingatkan kita semua agar kecintaan kepada Allah bisa dibangun sampai kedalaman cinta yang hakiki. Bukan cinta dalam orasi, bukan cinta dalam label dan kepentingan pribadi. Bukan cinta yang diselubungi oleh awan kemunafikan yang mengerikan.
Tapi Dewa malah dituduh pantheisme, dituding wahdatul wujud, dituduh menyamakan Tuhan dengan manusia. Tudingan yang mirip terhadap Ibnu Araby, Al-Hallaj maupun Suhrawardy.
Padahal memahami bahasa Cinta dalam Musyahadah jiwa para Sufi, tidak bisa dengan melihat dengan mata kepala, tapi lihatlah dengan matahati.
Dalam dunia Sufi tidak ada Wahdatul Wujud, yang ada adalah Wahdatus Syuhud, yang bersatu bukan fisik dan bukan jasad tetapi yang bersatu adalah Kesaksian Jiwa, Itulah Musyahadah. Dan dengan Musyahadah itu kita semua baru memahami apa yang disebut dengan Tangan, Lisan, Telinga, sebagaimana dalam firmanNya itu. Tanpa Musyahadah anda akan terjebak oleh formalisme buta, sebagaimana Iblis tergelincir oleh formalisme ubudiyah, hanya karena memandang sosok formal Adam, lalu dia arogan, berakhir dengan penentangan, lalu jadi Iblis.
Iblis tidak melihat hakikat Adam, ia hanya terjebak oleh egoisme sentries dibalik bahan baku Adam dari tanah, dan usia Adam yang lebih muda dibanding dirinya. Na'udzubillah minasyyaithoonirrojim.
Lihatlah syair-syair Dewa dengan kacamata hati, desah jiwa, nafas Ruh, maka segalanya akan terbuka. Mungkin Dewa juga sedang belajar menghayatinya, sebagaimana para penempuh Jalan Ilahi yang lainnya.
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan TaufiqNya kepada kita semua, mencahayai hati kita, mengokohkan iman kita, menyelamatkan kita dunia sampai akhirat. Amin.
__________________
taken from www.dewa19.com/forums by arull